DIDOMA

Artikel tentang ilmu pengetahuan umum dan ilmu komputer

Translate

Abu Umamah sang penghuni surga

     

Suatu hari Rasulullah SAW duduk-duduk dengan beberapa sahabatnya, kemudian beliau berkata, "sebentar lagi panghuni surga akan memasuki masjid ini". Ketika para sahabat mendengar kabar menarik tersebut, semua pandangan mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak mereka, orang yang dimaksud oleh Baginda Nabi adalah sosok yang sangat luar biasa. Namun setelah para sahabat melihat sendiri siapa yang datang dan memasuki masjid itu, betapa terkejutnya mereka, seakan-akan tidak percaya. Seseorang yang bernama Abu Umamah Ibnu Jarrah itu berpenampilan biasa-biasa saja, beliau bukan orang yang terkenal di kalangan para sahabat. 

Keesokan harinya, ketika Rasulullah bersama dengan para sahabat, beliau kembali mengatakan hal yang sama, bahwa orang tersebut adalah penghuni surga. Hingga pada hari ke-3, rasulullah SAW tetap mengatakan hal yang sama. yaitu Abu Umamah adalah penghuni surga. Mendengar hal tersebut membuat beberapa sahabat Rasulullah SAW penasaran, termasuk Abdullah bin Amar bin Ash. " Perbuatan amal apakah yang membuat Abu umamah dikatakan sebagai ahli surga.

Saking penasarannya, Abdullah bin Amar bin Ash, kemudian meminta izin menginap selama 3 hari di rumah Abu Umamah. Selama menginap selama 3 hari 3 malam, Abdullah selalu memperhatikan semua perbuatan Abu Umamah. Namun oleh Abdullah dirasakan bahwa tidak ada satu hal pun yang istimewa dalam diri Abu Umamah. Ibadahnya biasa-biasa saja, pada malam hari juga tidak terlihat melakukan solat malam, atau melakukan ibadah-ibadah sunah lainnya. Berdasarkan dengan apa yang telah dilihatnya itu, Abdullah kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Abu Umamah. "Amal perbuatan apakah yang engkau lakukan, sehingga Rasulullah SAW mengatakan bahwa dirimu adalah calon penghuni surga?". Abu Umamah kemudian menjawab pertanyaan dari Abdullah tersebut "Wahai saudaraku sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada orang lain. Selain itu, sebelum tidur, saya selalu membersihkan hati dari perasaan ujub (kagum terhadap diri sendiri), takabur, dengki dan rasa dendam.

Abu Umamah memang bukan sahabat yang selevel dengan Abu Bakar, Umar bin Khotob, Utsman bin Affan ataupun Ali bin Abi Tholib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurahman bin Auf, Salman Al-Farisi, dan lainya. Namun dengan kebersihan hatinya itu lah beliau mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT.

Kisah ini mengajarkan kepada kita tentang kebersihan hati dari perbuatan iri dan dengki, Allah SWT melarang kita iri pada yang lain karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah menjadi ketentuan Allah SWT.

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun ) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah SWT sebagian dari Karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"[An Nisaa' : 32] 

Jika kita mengagumi milik orang lain, agar terhindar dari iri hendaknya kita mendoakan agar yang bersangkutan mendapat limpahan berkah oleh Allah SWT. Iri hanya diperbolehkan dalam dua hal, yaitu iri dalam hal sedekah dan ilmu. Seperti yang dijelaskan oleh hadis HR Bukhari Muslim

tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang yang diberi Allah ilmu dan kebijaksanaan lalu dia melaksanakan dan mengerjakannya. [HR. Bukhari]

Dengki lebih parah lagi. Orang yang memiliki rasa dengki merasa susah jika melihat orang lain senang, dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh karena itu dalam surah Al Falaq ayat 5 Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki. Waspadalah terhadap penyakit iri dan dengki, sesungguhnya perbutan tersebut mengikis pahala-pahala  sebagaimana api memakan kayu.

Demikian postingan mengenai pembelajaran hidup kali ini, semoga bisa bermanfaat dan saya ucapkan terimakasih sudah membaca dari awal sampai akhir.
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Abu Umamah sang penghuni surga"

tinggalkan komentar di bawah ini